Selasa, 4 Agustus 2026

Breaking News

  • Di Hadapan IDI, Bupati Afni Pastikan Perjuangkan Hak Fiskal Siak untuk Kesejahteraan Tenaga Medis   ●   
  • Bupati Bengkalis Ajak Masyarakat Semarakkan Hari Jadi Ke-69 Riau dan HUT Ke-81 RI   ●   
  • Sempena Hari Jadi Bengkalis dan Sambut HUT RI, Bupati Kasmarni Bagikan Bendera Merah Putih kepada Pengguna Jalan   ●   
  • Raja Rambah dr. H. Tengku Afrizal Dachlan, M.M. Paparkan Rencana Penataan Kompleks Makam dan Pembangunan Replika Istana   ●   
  • Puncak Hari Jadi ke-514 Bengkalis, LAMR Gelar Majelis Kenduri Adat Bersama Bupati Kasmarni   ●   
SARASEHAN KEBANGSAAN
Mahfud MD: Masyarakat Dirugikan Bila Terpecah
Minggu 31 Maret 2019, 10:17 WIB
Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Dr Mohammad Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam sarasehan kebangsaan di Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Sabtu (30/03/2019).
PEKANBARU. RIAUMADANI. com - Tensi politik kian hari kian meningkat. Hal itu dirasa menjadi cikal perpecahan antar masyarakat. Padahal seharusnya, Pemilu 2019 menjadi ajang pemersatu. Karena siapa pun yang akan menang dalam pesta demokrasi tersebut, masyarakat akan rugi bila sudah terpecah belah.

Sebaliknya, bila tetap bersatu maka yang diuntungkan adalah masyarakat. Hal itu disampaikan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Dr Mohammad Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam sarasehan kebangsaan di Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Sabtu (30/03/2019).

Hadir dalam kesempatan itu beberapa pembicara tingkat nasional. Seperti Wakil Ketua KPK Laode M Syarif beserta beberapa narasumber lokal. Yakni Prof Dr Alaidin Koto MA, Prof Dr Ellydar Chaidir, Prof Dr H Akhmad Mujahidin SAG MAG serta Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin MA.

Selain itu, hadir juga sebagai undangan beberapa tokoh akademisi, tokoh budaya, tokoh pemuda hingga paguyuban di Provinsi Riau. Dalam sambutannya, Prof Mahfud menilai para peserta pemilu sudah tidak sopan lagi dalam mencari kemenangan.

Seperti dengan membuat fitnah, hoaks, menyebar teror secara ideologi. Hal itulah yang membuat masyarakat saling terprovokasi dan rentan terpecah. Kata dia, masyarakat Indonesia membutuhkan wawasan kebangsaan yang majemuk. Dengan mengedepankan unsur keseimbangan. Tujuannya untuk menangkal paradoks dari kemajemukan yaitu primordialisme, etnosentrisme, sekterianisme, stereotipisme dan potensi konflik sosial.

“Saya bersama Alissa Wahid, Benny Susetyo, Ajar Budi Kuncoro, Imam Marsudi dan Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin mulai menggagas Suluh Kebangsaan ini. Gagasan ini mendapatkan dukungan yang sangat besar dari para tokoh. Hal itulah yang membuat saya serta beberapa tokoh lainnya bergerak keliling Indonesia,” ujarnya.(tIS/rp)



Editor : Tis
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
 
 
Copyrights © 2022 All Rights Reserved by Riaumadani.com
Scroll to top