Rabu, 3 Juni 2026

Breaking News

  • SF Hariyanto Jadi Saksi Sidang Perkara Dugaan Korupsi Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid    ●   
  • Profil Dadan Hindayana Mantan Kepala BGN yang Ditahan Kejagung   ●   
  • Profil Lodewyk Pusung, Sehari Setelah Dipecat Prabowo Sebagai Wakil Kepala BGN, Ditahan Kejagung   ●   
  • Profil Sony Sonjaya, Purnawirawan Polri Dicopot dari Wakil Kepala BGN, Ditahan Kejagung   ●   
  • Setelah Dipecat Prabowo Mantan Kepala BGN dan 2 Wakilnya Ditahan Kejagung   ●   
Waspada, Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, 12 Orang Meninggal
Sabtu 23 Mei 2026, 17:01 WIB

Waspada, Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, 12 Orang Meninggal

PEKANBARU. RIAU MADANI. COM - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Riau terus meningkat dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan (Diskes) Riau mencatat sebanyak 1.682 kasus DBD terjadi sepanjang Januari hingga April 2026 yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, 12 orang dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Riau, Zulkifli, mengatakan kondisi lingkungan yang kurang bersih menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap lonjakan kasus ini sebagai persoalan biasa.

“Selama empat bulan terakhir, sebanyak 1.682 warga Riau telah terjangkit DBD. Ini bukan hal yang bisa dianggap sepele. Semua pihak harus berperan aktif dalam pencegahannya,” ujar Zulkifli, Sabtu (23/5/2026).

Kabupaten Rohil Jadi Wilayah Terparah

Kabupaten Rokan Hilir menjadi daerah dengan kasus tertinggi, yakni 282 kasus dan empat kematian. Disusul Kota Pekanbaru dengan 251 kasus, serta Kabupaten Bengkalis sebanyak 230 kasus dengan satu korban meninggal dunia.

Selain itu, Kota Dumai mencatat 208 kasus dengan satu kematian, Kabupaten Kampar 165 kasus dengan tiga korban meninggal dunia, dan Rokan Hulu 98 kasus dengan satu kematian. Sementara itu, Pelalawan mencatat 72 kasus, Indragiri Hulu 80 kasus dengan satu korban meninggal dunia, Kuantan Singingi 130 kasus, Siak 50 kasus, Indragiri Hilir 81 kasus dengan satu kematian, serta Kepulauan Meranti sebanyak 35 kasus.

Sebagai langkah antisipasi, Diskes Riau telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan dan pengendalian peningkatan kasus DBD. Masyarakat diminta aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan rumah masing-masing.

Pencegahan difokuskan pada pembersihan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, terutama genangan air yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah, seperti bak mandi, tempat penampungan air, wadah dispenser, pot bunga, tempat minum burung, hingga barang bekas di sekitar rumah.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), menyusul lonjakan kasus yang terjadi sejak awal tahun 2025.

“Kami sangat prihatin. Tren peningkatan ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Riau, drg. Sri Sadono Mulyanto, dalam keterangan resmi, Kamis (15/5/2025).

Sri Sadono menegaskan bahwa penyebab utama penyebaran DBD masih berasal dari lingkungan yang tidak bersih dan sanitasi yang buruk, yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.

Ia mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah utama pencegahan. “Nyamuk pembawa virus ini berkembang biak di air yang tergenang. Maka, membersihkan tempat-tempat penampungan air secara rutin sangat penting,” katanya.

Sebagai bentuk antisipasi, Dinkes Riau kembali mengintensifkan peran kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Mereka secara rutin memeriksa rumah-rumah warga dan mengedukasi masyarakat tentang potensi sarang nyamuk di bak mandi, vas bunga, saluran air, hingga tempat minum hewan.

“Kader Jumantik adalah ujung tombak kami di lapangan. Mereka bertugas memberikan edukasi dan mengingatkan warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” jelas Sri Sadono.

Selain itu, gerakan 3M Plus menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air—terus dikampanyekan, termasuk penggunaan kelambu dan obat nyamuk sebagai perlindungan tambahan.

“Pencegahan harus dimulai sebelum ada korban. Jangan menunggu ada yang sakit,” ujarnya.

Mengantisipasi potensi lonjakan kasus, Dinas Kesehatan juga telah berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas agar siap memberikan penanganan cepat.

Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi atau otot, sakit kepala, atau muncul bintik merah di kulit. “Penanganan DBD memerlukan deteksi dini agar tidak berujung fatal,” tegasnya.

Sri Sadono turut mengajak semua pihak mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga tingkat RT/RW untuk bersama-sama mencegah penyebaran DBD.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kerja sama semua lapisan masyarakat agar wabah ini bisa kita tekan dan kendalikan bersama,” tutupnya

 

 




Editor :
Kategori : Riau
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
 
 
Copyrights © 2022 All Rights Reserved by Riaumadani.com
Scroll to top