Kamis, 25 April 2024

Breaking News

  • Berhadiah Rp55 Juta, KPU Riau Buka Sayembara Maskot dan Jingle Pilgubri 2024   ●   
  • Wabup Rohul Hadiri Acara Prosesi Adat Jalang Monjalang Mamak di Gedung LKA Ujung Batu   ●   
  • Kejari Pasir Pengaraian dan Diskominfo Rohul Gelar Pelatihan Jurnalistik Bagi Staff Kejari   ●   
  • Pesan Bupati Kasmarni Kepala Sekolah Harus Fokus dan Optimalkan Kinerja Demi Kemajuan Pendidikan   ●   
  • Seorang Pria Ngaku Anggota Kodim Pekanbaru Kawal Kayu Diduga Ilegal Loging   ●   
AGRESI MILITER ISRAEL KE GAZA PALESTINA
Serangan Israel ke Gaza Palestina Telah Menelan Korban 20,000 Jiwa
Jumat 22 Desember 2023, 06:53 WIB

Serangan Israel ke Gaza Palestina Telah Menelan Korban 20,000 Jiwa

RIAUMADANI. COM, TEL AVIV – Korban yang gugur akibat agresi Israel ke Gaza mencapai angka 20 ribu jiwa pada Kamis (21/12/2023). Sementara korban luka hampir mencapai 53 ribu orang. Jumlah itu dihitung sejak Israel memulai agresinya ke Gaza pada 7 Oktober 2023.

WAFA melansir, puluhan orang, termasuk anak-anak dan perempuan, tewas dan lainnya terluka sejak fajar pada Kamis (21/12/2023). Puluhan rumah serta bangunan hancur akibat pemboman pendudukan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza melalui darat, laut, dan udara.

Sumber-sumber yang dikutip WAFA melaporkan bahwa puluhan orang gugur dan lainnya terluka dalam serangan pendudukan yang sedang berlangsung di Jabaliya di Jalur Gaza utara, dan di beberapa wilayah di Jalur Gaza tengah. Selama 24 jam terakhir, 55 orang tewas dalam penggerebekan Israel terhadap rumah-rumah di kota Khan Younis, selatan Jalur Gaza.

Kapal-kapal pendudukan secara intensif mengebom kota Rafah, di selatan Jalur Gaza, menyebabkan puluhan orang tewas dan terluka. Lingkungan Shujaiya dan wilayah Jabalia, timur dan utara Jalur Gaza, juga mengalami pemboman hebat yang dilakukan oleh pesawat tempur pendudukan.

Pertahanan Sipil di Jalur Gaza utara melaporkan bahwa krunya tidak dapat menjangkau korban tewas dan terluka akibat pemboman hebat Israel.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan bahwa pasukan penjajah masih mengepung Pusat Ambulans Jabalia, mengancam keselamatan 127 warga, termasuk petugas medis, dan 22 orang terluka.

Sumber medis mengumumkan kematian tiga orang yang terluka karena kurangnya pasokan medis di Kompleks Medis al-Shifa di Kota Gaza.

Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini mengatakan bahwa unit gawat darurat di al-Shifa telah berubah menjadi kolam darah dan memerlukan rehabilitasi setelah rusak parah akibat pemboman Israel.

Dijelaskan bahwa puluhan ribu pengungsi mengungsi di kompleks ini, yang kekurangan air dan makanan, dan tim yang mengunjungi kompleks tersebut menggambarkan layanan darurat sebagai “kolam darah”, dengan ratusan pasien yang terinfeksi di dalamnya dan pasien baru berdatangan setiap menitnya, , Belum lagi pasien yang menderita trauma menerima perawatan di lantai dan tindakan untuk menghilangkan rasa sakit sangat terbatas dan bahkan tidak tersedia.

Sementara itu, pasukan pendudukan terus memutus komunikasi dan layanan Internet di Jalur Gaza untuk hari kedua berturut-turut.

Sementara itu Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyuarakan keprihatinan atas melonjaknya jumlah korban jiwa dalam peperangan di Jalur Gaza yang kini sudah menembus 20 ribu. Dia mengatakan, angka tersebut tak dapat diterima.

“Jumlahnya (korban jiwa di Gaza) tidak dapat diterima dan sangat besar serta tidak jelas, dan kata sifat apa pun yang ingin Anda gunakan selama beberapa waktu,” kata Dujarric kepada awak media, Rabu kemarin.

Oleh sebab itu, dia menyerukan agar gencatan senjata kembali diterapkan di Gaza. “Kami ingin senjata tidak lagi digunakan karena kami dapat menjangkau masyarakat Gaza yang paling membutuhkan bantuan saat ini,” ujar Dujarric.

Dia pun mengomentari tentang kembali tertundanya proses pemungutan suara rancangan resolusi berisi seruan gencatan senjata dan penghentian permusuhan Gaza di Dewan Keamanan PBB. Menurut Dujarric, proses pembahasan terus berlangsung di badan beranggotakan 15 negara tersebut.

“Posisi Sekretaris Jenderal (PBB) tidak berubah. Dia menyerukan gencatan senjata kemanusiaan, dan juga menyerukan terciptanya kondisi di lapangan yang kondusif untuk pengiriman bantuan kemanusiaan yang lebih luas,” kata Dujarric.

Dujarric sempat merespons pertanyaan wartawan yang mempertanyakan apakah PBB badan yang dapat dipercaya untuk memantau pengiriman bantuan ke Gaza. “Saya tidak akan memasukkan kami ke dalam diskusi yang sedang berlangsung di Dewan (Keamanan) karena kami tahu betapa rumitnya hal tersebut,” jawab Dujarric.

“Apa yang dapat saya sampaikan kepada Anda adalah bahwa di seluruh dunia, PBB melakukan pekerjaan kemanusiaannya berdasarkan prinsip-prinsip ketidakberpihakan, dan hal itu terjadi di setiap sudut dunia dan kami akan terus melakukannya dengan cara yang sama,” tambahnya.

Meski begitu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan akan terus melanjutkan peperangan di Jalur Gaza.

“Kami melanjutkan perang sampai akhir. Hal ini akan terus berlanjut sampai Hamas tersingkir; sampai kemenangan,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan, Rabu (20/12/2023), dilaporkan Anadolu Agency.

Netanyahu pun seolah menyisihkan kabar yang menyebut bahwa tengah berlangsung negosiasi antara Israel dan Hamas untuk memberlakukan jeda kemanusiaan kedua di Gaza. “Mereka yang mengira kami akan berhenti (berperang di Gaza), tidak terhubung dengan kenyataan,” katanya.

Dia menegaskan bahwa pasukan Israel tak akan berhenti berperang hingga Hamas tumpas dan orang-orang yang disandera kelompok tersebut dibebaskan. Netanyahu mengatakan, para pemimpin Hamas hanya mempunyai dua pilihan, menyerah atau tewas dalam pertempuran, seperti yang dilansir dari republika. (*)




Editor : TIS
Kategori : Internasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada katariau.com, silakan kontak ke email: redaksi riaumadain.com
Komentar Anda
Berita Terkait
 
 
Copyrights © 2022 All Rights Reserved by Riaumadani.com
Scroll to top